Senin, 29 Agustus 2011

Murid Ke-24 Part 1

Semenjak kami menempati kelas ini. Banyak hal aneh yang terjadi di kehidupan kami. Kami sadar akan hal itu, hal yang menjelaskan tentang adanya... Murid ke-24.
ððð
“Au! Pegel banget nih pinggang rasanya!” rintih Gazevati Putri Adelis, yang biasa di panggil Gaze. Sahabatku yang sangat aneh. Kasihan juga kalau harus mendengar tuntutannya agar kami memanggilnya Putri, tapi mau diapakan lagi, nama Gaze itu sudah sangat membius di SMPN 2 Pangkalpinang ini. Dari kelas 7, sampai kelas 9.
“Emang kamu pikir aku gak pegel apa? Lagian tega banget sih tuh guru. Masa’ cuma gara-gara kita buang gelas plastik gak tepat di tempat sampah aja, kita sampe kena hukuman lari 5 keliling lapangan?!” rintih Alya Sabrina Aliski yang biasa dipanggil Yasab. Namanya sama dengan namaku! Tapi karena faktor kepopularitasan, yang beruntung mendapatkan nama alya alias aya adalah aku!
“Mana minumku?” tanyaku kehausan. Telapak kaki kananku merasakan sesuatu yang aneh. Dingin, lembab, menghanyutkan, MINUMKU! Minumku sudah terkapar di bawah meja Gaze! Ah... semuanya tumpah, haus!
“Lah? Kok air minum lo bisa nyasar kesana sih, Ya? Emang nasib Ya...” kata Gaze sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku tahu maksud dari kalimat terakhirnya, ia mengejekku. Kurang ajar!
“Uh. Biarin aja deh. Beli minum baru aja” kataku sambil melangkahkan kakiku keluar dari kelas.
ððð
“One, two, one two three go!”.
Hufh... Anas dan Ditha mulai beraksi lagi. Mereka berdua berdiri di depan kelas, mengisi jam pelajaran yang kosong dengan dance eksotis mereka.
“Hahaha!”. Hampir seluruh anak kelas 9a tertawa melihat tingkah mereka berdua, termasuk aku. Gila, ketua kelas kayak gini modelnya. Tapi bagus sih, disaat harus serius, dia akan menjadi ketua kelas yang tegas, tapi kalau gak serius, SEMBRONO!
“Aduh... sumpah deh tuh anak. Narsis banget dah. Ngakak gue ngeliatnya!” ucap Rizky terengah-engah karena tak tahan melihat tingkah konyol Anas dan Ditha.
“Hei! Itu ucapan gue! Tukang ngopy lo!” kata Gaze protes.
Mulai berdebat lagi deh!
Rizky Putri Pratiwi, sahabatku yang religius banget. Walau religius, sekalinya brutal, tunggu! Kapan dia pernah bertingkah brutal? Halah... dia selalu menjadi cewe yang kalem dan menghibur. Pantes aja kalo banyak cowo naksir bahkan rela bermalu-malu di depan umum demi mendapatkan jawaban sempurna darinya.
“Au!” rintih Ditha tiba-tiba. Ada apa? Lagi ketawa-ketiwi kok tiba-tiba berhenti?
“Au, kakiku!” rintih Ditha menangis. Kakinya berdarah! Ia terkena sudut lantai tengah kelas, kakinya terbaret.
Beberapa anak kelas 9a menghampirinya, gak termasuk aku. Aku cukup melihat dari jauh. Habis aku rasa space untuk nyelip udah gak memungkinkan lagi, otomatis kalo mau ngeliat harus jinjit-jinjit gak jelas.
Ditha dituntun dengan Feby dan Anggi segera dirujuk ke UKS. Suasana di kelas menjadi hening, Anas sang ketua kelas yang biasanya bersujud-sujud karena Ditha mewek, kali ini terdiam kaku di tempat duduknya.
“Cemas?” godaku.
“Enggak lah! Ngapain juga cemas sama dia?!” kata Anas bernada. Nadanya sangat meyakinkan, kayaknya nih orang emang gak cemas sama Ditha deh. Tapi kok mukanya pucet sih? Eh, bukannya aku peduli ya! Aku cuma bingung aja!
“Terus, kenapa muka kamu pucet gitu? Kalo gak cemas sama Ditha, apalagi?” goda Yasab.
“Ih, aku emang lagi cemas, tapi... bukan cemas sama kondisi Ditha! Aku cemas sama insiden yang dia alami. Dari gaya dia jatuh, aku gak nyangka banget” kata Anas.
“Gak nyangka kenapa?” kataku menginvestigasi.
“Kalian liat kan waktu Ditha nge-dance? Waktu gue liat gaya dia nge-dance, gaya dia itu mantep banget, dan gak mungkin kalo sampe jatoh terkapar kayak gitu” kata Anas sok serius. Emang dasar tukang gosip, kalo udah hubungannya sama gosip, gak mungkin ada yang bisa nandingin ocehannya deh!
“Kalo di pikir-pikir, iya juga sih. Gue liat tadi, si Ditha itu kakinya mantep banget. Dan setelah gue analisis... kemungkinan Ditha jatuh kayak gitu itu, kalo gak karena didorong, pasti ada yang ganggu. Tapi siapa? Gak ada yang negdeketin Ditha waktu itu” kata Gaze dengan gaya detektifnya. Detektif alay yang hobi ngopy ucapan orang lain.
Suasana berubah menjadi hening, hanya suasana disekitar kami. Kalau suaasana di luar kelas, tetap ramai, walau tak seramai sebelumnya.
“Murid ke-24” ucap Iptah dengan nada mistik. Aduh... tuh anak emang nyeremin banget sih nadanya. Udah tau suasana lagi nyeremin, nada bicara tambah lagi nyeremin. Jadi deh ini kelas jadi kelas mistik.
“Eh, iya. Topik yang pernah jadi trending topic di kelas ini. Mungkin aja tuh!” kata Yasab dengan tatapan serius.
“Hei, jangan ngomong ngawur!” kataku tak enak. Atmosfer di kelas ini makin lama makin hangat saja. Bahkan aku rasa, yang berada di dekatku sekarang bukan hanya 7 orang saja, tapi seperti... 8 orang.
“Udah lah, gak usah ngomongin kayak gituan, jadi aneh rasanya” ucap Gaze gelisah. Aku juga merasakan kegelisahan saat ini. Apa benar ada murid ke-24 di kelas ini? Tidak ah, hanya 23.
ððð

Minggu, 28 Agustus 2011

Geng Cantik: Vena Valisa 1

Vena Valisa

 “Wah... keren banget novelnya! Gue mau beli yang ini aja deh!” girang Sella sambil memeluk-meluk novel yang berjudul My Heart Just For You.
“Yah... gue juga mau novelnya! Yaudah deh, mending gue minjem ama elo aja, lumayan, hemat biaya!” kata Renata, gadis 14 tahun yang memiliki keturunan Jakarta-Madura, akan tetapi tak disangka-sangka, kulitnya berwarna sawo mateng, padahal bapak dan ibunya berkulit putih dan coklat, berarti keturunan kali ini menghasilkan intermediat ya. “Ye... enak aja! Itu mah elo-nya yang keenakan!” sanggah Sella, gadis 15 tahun yang merupakan kakak dari Renata, Cuma bedanya, kulit Sella 180o lebih putih dari Renata.
“Ternyata banyak lho novel yang dikarang sama Vena Valisa, yang buat novel ini!” kata Berni sambil menunjuk novel yang dipegang oleh Sella dengan telunjuk kanannya.
“Hah... mana? Gue mau beli dong!” kata Renata. Berni pun mengajak Renata ke salah satu sudut di toko buku tersebut, dan hasilnya,
“Wow... karangan Vena Valisa semua! Ada... 1, 2, 3, wah... banyak banget!” kagum Renata.
“Lebai and Udik mode ON” kata Berni, gadis 16 tahun yang merupakan teman se-sekolah Lee. Cewe indo-jerman ini memiliki kulit yang hitam, akan tetapi wajahnya sangat manis, dan tidak sedikit juga cowo yang naksir sama dia, bahkan issue-nya, dia sudah memiliki 10 mantan sampai saat ini, banyak juga ya?!
“Gue jadi penasaran sama si pengarang novel yang bejibun ini, gimana ya orangnya? Kita samperin yuk rumahnya!” ajak Lee, gadis indo cina berkulit putih yang berumur 16 tahun. Gadis ini merupakan gadis yang paling cantik dan paling manis di antara teman-teman bermainnya. Banyak cowo yang naksir sama dia, tapi sayangnya, dia masih mau lajang sampai nanti dia duduk di bangku kuliah.
“Ayo, ayo! Nanti kita minta novelnya yang baaaanyaaakk!” girang Sella dan Renata, karena kegirangan mereka berdua itu lah, server di toko buku tersebut harus lelah letih berjalan menghampiri mereka berdua dan mengatakan, “Mohon tenang ya!”.
ííí
Di depan toko buku.
“Yah... gak ada alamat pengarangnya. Jadi kita harus gimana dong?” tanya Sella kecewa. Renata pun jadi ikut kecewa.
“Em... gimana ya? Yaudah deh, mending kita main ke rumah Je aja yuk!” ajak Lee. Dengan perasaan kecewa, Sella dan Renata pergi meninggalkan toko buku, tapi beda halnya dengan Lee dan Berni, wajah tak beremosi menghiasi wajah mereka berdua.
Mereka berempat pun naik ke mobil yang dikendarai oleh Lee. Berni duduk di sampingnya, sedangkan kakak-beradik Sella dan Renata duduk di bangku kedua.
“Are you ready?” tanya Lee. “Yeah!” sahut Berni, Sella, dan Renata serempak.
ííí
“Jeje...” sahut Sella, Renata, Berni, dan Lee bersamaan. Jenifer, gadis 15 tahun yang merupakan keturunan indo-amsterdam keluar dari rumahnya.
“Eh, kalian! Ayo masuk! Kok mau kesini gak bilang-bilang sih? Gue kan masih rombeng kayak gini!” kata Jenifer sambil menunjukan tubuhnya yang masih diselimuti baju tidur bergambar teddy bear yang berlengan dan bercelana panjang.
“Elo-nya juga yang stres, sekarang udah jam 11 siang, Jeje!” kata Berni.
“Umm... yaudah, gue salah. Ehh, masuk yuk! Nanti kalian tunggu gue mandi dulu di kamar, baru kita jalan-jalan, oke?!” kata Jenifer. Sella, Renata, Lee, dan Berni pun masuk ke dalam rumah Jenifer, tepatnya di kamar Jenifer.
“Sambil nungguin Jeje mandi, mending baca novel karangan Vena Valisa dulu” kata Sella. “Emang lu doang yang punya?! Gue juga punya!” kata Renata yang tidak mau kalah.
“Yailah... kakak adek mulai lagi deh berantemnya!” kata Berni.
Tidak lama kemudian Jenifer datang dan semua berubah. Rambut yang sebelumnya acak-acakan, sekarang berubah menjadi rapi dan wangi, kulit yang awalnya keriput pucat, berubah menjadi halus dan lembut, muka yang awalnya kusut dan penuh belek, sekarang berubah menjadi bersih dan indah, dan pakaian yang sebelumnya kusut dan apek, sekarang bersih, rapi, dan wangi. Memang, kalau tandingan dandan sama Jenifer, cewe inilah jagonya.
“Jia... udah keren deh sekarang! Mantap!” puji Sella sambil mengacungkan dua jempol kepada Jenifer. Jenifer pun bertepuk tangan kegirangan.
“Eh, bay the way, itu novel apa? Liat dong!” pinta Jenifer. Sella pun memberikan novelnya kepada Jenifer. Melihat nama pengarang yang membuat novel tersebut, Jenifer langsung terdiam kaku.
“Kenapa, Je?” tanya Lee. Jenifer mengembalikan novel tersebut kepada Sella.
“Gue tau siapa yang ngarang novel itu sebenarnya” kata Jenifer gugup. Suasana berubah menjadi tegang.
“Maksud elo, lo tau dimana alamat si pengarang ini?” tanya Renata. Jenifer mengangguk pelan. Sella dan Renata langsung menghampiri Jenifer dan menatap tajam mata Jenifer.
“Ayo kita kesana!” ajak Sella. “Gak mau!” respon Jenifer panik.
“Kenapa?” tanya Renata kecewa. “Padahal gue nge-fans banget sama pengarang novel ini” kata Sella. Mendengar pernyataan Renata dan Sella, Jenifer langsung merasa bersalah apabila ia harus meruntuhkan semangat kedua sahabatnya itu.
“Em... yaudah deh, kalo itu mau kalian, ayo kita kesana!” ajak Jenifer.

Senin, 01 Agustus 2011

Nycta Mencari Cinta 1

Dipinngir jalan raya kota besar Jakarta, terlihat seorang cewe langsing yang sip banget lagi ngelongok-ngelongok gak jelas, kayak pemulung lagi nyari sampah! Ya… kita tahu selama ini orang gembel di kota besar udah jadi inceran polisi untuk dibawa ke rutan tempat mereka bekerja. Tapi… kali ini lagi aman kok! Eits… tunggu! Elo mikir cewe yang tadi gue deskripsiin itu gembel ya? Enggak lah! Dia Cuma anak kuliahan yang lagi gak ada kerjaan, mau pulang ke rumah, gak tau mau ngapain, mau ke kampus lagi, pala udah puyeng, jadi jalan-jalan gak jelas aja kayak orang kesesat. Berbagai macam mobil melintas dihadapannya, tapi gak ada satu pun mobil yang buat dia BeTe, kecuali mobil yang satu ini!
“ whuuusss…” terdengar suara angin yang kenceng banget sehingga membuat genangan air yang berada tepat disamping Nycta, cewe yang tadi gue omongin, jadi basah kuyup, air comberan, yang menempel di baju yang baru dia beli, oh… no!
“ eh… gila apa ya, loe? Gak liat apa ada orang lagi ngerenungin nasib disini? Dasar loe!” Nycta terus menerus mengejek si pengendara mobil tadi tanpa memikirkan siapa si pengemudi itu. Mobil yang tadi membuat Nycta kesal menghampirinya. Dengan cepat si pengemudi membuka kaca mobilnya. Terlihat sesosok wajah seorang cowo yang kayaknya cool and santai abis nih.
“ apa?” Tanyanya santai.
“ loe gak liat apa? Gue basah kuyup tau gak! Kurang ajar loe! Pake nanya lagi! Baju baru nih yang baru gue beli!” kata Nycta yang gak bisa berhenti melampiaskan emosinya.
” sorry!” katanya dingin.
” ih... siapa sih nih cowo, sanati amat ngeliat gue seorang siswi universitar terbuka Jakarta! Gak ngehormatin banget sih nih cowo! Gue tau dia cool and gue banget! Tapi sumpah, ngeselin abis! Gue rasa cewe yang mau ama dia Cuma karena ketampanan dan kekayaannya doang!” kata Nyta dalam hati sambil melihat penampilan cowo yang gak jelas yang tadi buat Nycta BeTe abis.
“ o... elo Cuma ngemasalahin baju baru loe yang kotor doang? Gampang! Gue bisa ganti!” katanya yang nadanya membuat Nycta tambah kesal.
“ eh... loe pikir gue miskin apa? Gue juga punya uang kali! Gue Cuma mau elo gantiin rasa sopan loe tau! Dimana sih rasa sopan anak mobilan itu?!” ejek Nycta.
“ eh... loe pikir loe siapa? Penting apa gue bersikap sopan ama elo?!” ejek cowo itu.
“ eh...” omongan Nycta ditabrak gitu aja sama cowo yang tadi ngenyipratin air ke baju Nycta. Cowo itu keluar dari mobilnya, membukakan pintu kiri mobilnya, dan...
“ kita bicarain didalem!” katanya.
“ eh... siapa loe nyuruh-nyuruh gue?” kata Nycta yang menolak diajak oleh cowo gak jelas tadi.
“ ya... dari pada kita bicara dijalan kayak gini, gak enak ama orang laen yang ngeliat!” kata cowo itu lagi, kayaknya kali ini dia berusaha membela diri. Nycta menatapnya sinis.
“ oke!” akhirnya.
Saat didalam mobil cowo itu, mereka sempet diem sejenak. Gak tau sih mau ngomong apa.
“ oke, sebagai tandap permintaan maaf gue, gue mau ajak elo jalan-jalan, untuk ngegantiin rasa kesopanan gue yang kurang untuk elo, ganti baju elo yang kotor, dan gue coba untuk ngedinginin pikiran elo lagi” kata cowo itu. Nycta gak peduli tuh cowo mau ngomong apa, pokoknya didalem mobil tuh cowo udah dingin, udah adem, gak kayak diluar yang hot banget.
“ kita mau kemana?” tanyanya.
“ gue sebagai cewe yang punya pikiran dan akal sehat, gue rasa kalo elo ngajak gue ketempat gak jelas, itu Cuma buang waktu elo, dan mungkin kerjaan elo, daripada gue ngehambat kerjaan elo, mending gak usah ada acara jalan-jalan” kata Nycta.
“ gue gak ada acara!” kata cowo itu kemudian langsung mengemudikan mobilnya. Nycta gak ngerti mau diajak kemana, tapi gak apa-apa lah! Lumayan ngisi kekosongan waktu.

AlyaNidaTM

Sabtu, 02 April 2011

Dari TM Story

Maaf ya semua pembaca antm.blogspot.com, minggu ini TM Story gak nge-post cerita. Minggu depan pasti sudah ada cerita baru yang enak untuk diikuti. Sekali lagi, maaf ya.

Untuk siapapun yang mau ceritanya di post di blog ini, silahkan kirim cerita kamu ke alya.story@gmail.com, sertakan nama lengkap dan nama gaul juga ya. Thanks.


TM Story

Sabtu, 26 Maret 2011

Si Penyumpit

Si Penyumpit

Alkisah, di tanah Bangka hiduplah seorang anak laki-laki bernama Tema’u, dia adalah seorang anak yang sangay lincah dan baik hati. Akan tetapi dia adalah anak Yatim Piatu, karena ibu dan ayahnya meninggal saat dia berumur 6 tahun. Diakibatkan angin puting beliung yang melewati rumahnya di Jl. Mentok saat itu. Sekarang dia harus mengurus dirinya sendiri diumurnya yang masih cukup muda, 10 tahun.
Tetapi saat dia sudah menjadi seorang lelaki nerumur 20 tahun. Bahkan dia adalah seorang pemburu yang hebat! Seorang pemburu yang biasa memakai sumpit. Keahlian itu memang sudah dimilikinya atas keturunan dari bapaknya. Selain itu juga dia adalah seorang yang bisa mengobati segala macam penyakit. Kehlian itu juga datang dari bapaknya. Hingga pada suatu hari, dia berburu kambing dihutan dengan menggunakan sumpitnya, dengan berhati-hati, dia menangkap kambing itu dengan menancapkan sumpitnya. Kahirnya, banyak orang yang menyebutnya Si Penyumpit.
Dia sekarang telah menjadi seorang yang sangat kaya raya dan terkenal ditempat tinggalnya, Kampung Opas.
Suatu hari, Pak Raje merasa padi yang ditanamnya mulai mati beberapa. Pak Raje sangat kecewa dan benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan satu-satunya sumber kehidupan keluarga Pak Raje.
” oh... ibu, cemane pulik padi kite jadi macem tuh?! Ancu’ gale! ( ibu bagaimana ini? Semuanya hancur!)” kata Pak Raje kepada istrinya. Pak Raje terlihat sangat lelah dan stress.
” yo...lah, pak! Tak usah macem tuh! Mending bapak tidu’ bae! Kelak e emak yang ngurus, ok! ( sudah, pak! Lebih baik bapak tidur saja, semua ibu yang urus!)” kata Bu Ratu, istri Pak Raje.
” dek acak bu! Kalo padi kite mati, kelak kite makan ape? ( tak bisa, bu! Kalau padi kita mati bagaimana?)” tanya Pak Raje.
” tenang lah, pak! Kite sabar aje! Kita serahkan ni kepada Allah! ( tenang saja pak, kita serahkan semuanya kepada Allah!)” kata Bu Ratu sambil menenangkan hati Pak Raje.
” terus cemane sekarang? ( lalu bagaimana sekarang?)” tanya Pak Raje.
” tenang bae! Sekarang bapak tidu’ dulu! Kelak bapak sakit, siape yang ngurus padi e! (tenang saja! Bapak tidur sekarang! Nanti kalau bapak sakit, siapa yang mengurus padinya?)” kata Bu Ratu.
” aok lah pun! Ku tidu’ dulu, ok!” kata Pak Raje.
” ye lah!” respon Bu Ratu.
Malam harinya.
“ bu!” panggil Pak Raje kepada istrinya.
“ ape, pak! Lah malem. Jangan teriak-teriak!” kata Bu Ratu sambil mendekati Pak Raje.
” bu, gimana kalau kite buat ranjau untuk nyari tau ape yang ngerusakin padi kite! ( bagaimana kalau kita membuat jebakan untuk mengetahui apa yang merusak padi kita!)kata Pak Raje.
” em... tak usah lah, pak! Kelak bahaya!” kata Bu Ratu.
” ih... cemane pulik ka tuh, Rat! Kalo tuh pengantet dak kite temu, mati kta kelak e! ( bagaimana kamu ini, Rat! Kalau kita tidak menemukan perusaknya, bagaimana nanti, kita bisa mati!)” kata Pak Raje dengan sedikit emosi.
Kemudian ia pun pergi kekamar tidurnya untuk tidur.
Esok hari.
Pak Raje terlihat sangat sibuk untuk membuat jebakan terhadap sesuatu yang merusak padinya. Pak Raje menyiapkan perangkap sesempurna mungkin agar padinya selamat.
” ih... bapak nih! Aku sudah bilang, ora masang perangkap, ngeyel aja, biar kitanya sendiri, biar tahu rasa!” kata Bu Ratu yang berada dibalik jendela.
” Ratu!” panggil Pak Raje kepada istrinya.
” ape geh pak?” tanya Bu Ratu sambil mendekati Pak Raje.
” bu, hape bapak geter nih! Tolong ambil!” kata Pak Raje.
Bu Ratu pun mengambil hape yang berketar dari kantong Pak Raje. Tarlihat panggilan masuk dari Nuer.
” siape Nuer nih, pak?” tanya Bu Ratu dengan nada agak marah.
” Nuer? Masak ka lupe geh?!” kata Pak Raje.
” tak usah mengelak, siape ni?” tanya Bu Ratu yang terlihat semakin geram.
” angkatlah dulu!” kata Pak Raje.
” halo!” kata Bu Ratu.
” bu, ni Nuer, bu! Ape kabar e disane?” tanya Nuer. Anak Pak Raje dan Bu Ratu.
“ ich… Nuer nih? Anak ibu?” tanya Bu Ratu.
” aok lah! Siape agik!” jawab Nuer.
” tuh he! Jangan nyangke yang enggak-enggak! Angkatlah dulu” kata Pak Raje yang sedikit terhibr dari kejadian tersebut.
” kan gak tau, pak!” kata Bu Ratu.
” eh... cemane kabar ka, nak? Baek lah!” kata Bu Ratu.
” ya... iyalah, bu! Eh... Nuer mau kesane kelak e! Em... mungkin hari minggu kayak e!” kata Nuer.
” iye kah? Alhamdulillah! Bagus lah pun!” kata Bu Ratu.
” eh... ape bu?” tanya Pak Raje.
“ diem lah dulu! Ibu agik ngomong kek Nuer!” kata Bu Ratu.
” ih... bapak neg! Gantian! Gantian!” kata Pak Raje.
” eh... mak, pak! Nuer neg ngomong nih! Jangan bekelai disane!” kata Nuer.
” ih... diam nih, pak! Nuer neg ngomong!” kata Bu ratu.
” aok lah pun! Ngomong sek!” kata pak raje yang mengalah.
” ape nak?” tanya Bu Ratu.
Nuer kan nanti neg pulang, karena lah lame di Jakarta. Tak apa ok!” kata Nuer.
” pulang lah, Nuer! Jangan malu-malu! Nanri kamu langsung married disini!” kata Bu Ratu.
” ya...  udah dulu ya, bu! Assalamu’alaikum!” kata Nuer.
” Wa’alaikum salam!” jawab Bu Ratu.
” eh... bapak neg ngomong!” kata Pak Raje.
” lah mati!” kata Bu Ratu.
” ich... ka nih!”.
Tak sengaja, ranjau yang Pak Raje buat, langsung melukai tangannya.
” ouh!” rintih Pak Raje.
” tu... lah! Dibilang gak usah buat ranjau, malah buat! Cemane!” kata Bu Ratu.
” bising ka tuh!”.
Esok hari.
” cemane cara nangkep si penghancur padi nih?” pikir Pak Raje.
“ eh… ibu punya ide! Gimana kalau kita minta Si Penyumpit untuk nangkep tuh perusak!” kata Bu Ratu.
” hmm... bagus juga tuh!”.
Bu Ratu langsung menyuruh Si Penyumpit untuk menemukan pelaku kerusakan padi Pak Raje.
” oh... Tema’u, tolong carikan perusak padi kami ya!” kata Bu Ratu.
” sip... lah!” kata Tema’u.
Malam harinya, Tema’u atau Si Penyumpit mengawasi padi Pak Raje.
Tiba-tiba lewat segerombolan babi yang sibuk mengambil dan merusak padi Pak Raje.
” o... jadi babi-babi ini tang mengambil padi Pak Raje!” kata Si Penyumpit.
Dengan perlahan Si Penyumpit menusukkan sumpitnya kedalam tubuh salah satu babi yang ada, kemudian babi-babi itu melarikan diri.
Karena penasaran dengan sumber babi-babi itu, Si Penyumpit pun mengikuti babi-babi itu diam-diam.
Sampai disuatu goa.
” siapa kau?” tanya seorang wanita yang sepertinya ibu ari seorang wanita yang didekapnya itu. Bersama dengan kawanannya yang lain, mereka menatap Si Penyumpit itu dengan penuh tanda tanya.
” saya Tema’u. Dari Opas!” kata Tema’u Si Penyumpit.
” ada apa dengannya?” tanya Si Penyumpit.
“ dia terluka! Ada sesatu yang melukai tubuhnya.” kata wanita tua itu.
” itu sumpitku!” kata Si Penyumpit.
Wanita tua aitu sangat sedih sekali melihat kondisi putrinya.
” kalian babo jadi-jadian?” tanya Si Penyumpit.
” hmm” jawab salah satunya.
” baik, ku neg nyembuhinnya, tapi ada satu syarat!” kata Si Penyumpit.
” apa?” tanya wanita tua yang sudah tak berdaya tadi.
” siapkan satu saja daun ...” kata Si Penyumpit.
Setelah semua barang yang dibutuhkan telah tersedia, Si Penyumpit pun segera menyembuhkan luka wanita yang terluka tadi.
Si Penyumpit membacakan sebuah mantra untuk menyembuhkan wanita yang terluka.
Perlahan sumit yang melukai tubuhnya dikeluarkan oleh Si Penyumpit.
” anakku!”.
” ibu!”.
Wanita itu pun sembuh tanpa meninggalkan luka sedikit pun.
Dengan senang hati wanita tua tadi itu pun memberikan sebuah kantong berisi biji kakao, biji kelapa sawit, dan 8 buah biji rambutan.
” bukalah kantong ini dirumahmu, setelkah kau sampai dirumah, jangan diluar rumah” katanya.
” ya... makasih!” kata Si Penyumpit.
Sesampai dirumah Si Penyumpit, dia pun segera membuka kantong yang diberikan wanita tua itu tadi.
Dan... wow! Kantong itu berisi emas, perak, dan banyak seklau berlian juga mutiara!
” ya... ampun!” kaget Si Penyumpit.
Kemudian ia pun berterimakasih kepada tuhan karena telah memberikannya rezeki yang berlimpah.
Esok hari.
” nak, terimakasih sekali kamu sudah menolong saya!” kata Pak Raje kepada Si Penyumpit.
” sama-sama, pak!” kata Si Penyumpit.
” ini, sedikit imbalan untuk kamu!” kata Pak Raje.
” oh... tak usah, pak! Utnuk bapak saja!” kata Si Penyumpit.
” bainya kau! Makasih ya, nak!” kata Pak Raje.
” ye!”.
Pada hari Minggu yang cerah, Si Penyumpit terlihat sedang sibuk mengurusi rumah yang akan dia bangun kembali.
” eh... Tema’u, repot e!” kata Pak Raje.
” aok, pak! Agik neg ngerenovasi rumah!” kata Si Penyumpit.
” rajin e! Bagus!” kata Pak Raje.
” eh... bapak rapih bener?” tanya Si Penyumpit.
” hehehe... anak bapak dari Jakarta nih mau dateng, namanya Neur, nanti mau gak kamu bapak jodohkan dengannya?” tanya Pak Raje.
” hahaha... bapak bisa aja!” kata Si Penyumpit.
” anaknya cakep kok!” kata Pak Raje.
” ya.... tergantung anaknya lah!” kata Si Penyumpit.
” eh... ka tuh, jangan malu-malu kek bapak! Anggaplah bapak nih bapakmu! Tapi kalau ka lah nikah kek anak bapak!” kata Pak Raje.
” hahaha... bapak!” kata Si Penyumpit.
” ya... udah deh! Lah jam segini! Bapak neg jemput anak bapak dulu ok! Neg ikut dak?” tanya Pak Raje.
” bapak bae! Ku agik jaga ni” kata Si Penyumpit.
” ya... udah, bapak pegi dulu, ok!” kata Pak Raje.
” emm...”.
Siang hari.
Si Penyumpit terlihat sedang makan mie ayam depan kantor pos, tempat dia makan biasanya.
” nak, agik gawe ape ka disini?” tanya Pak Raje.
” makan lah, pak!” jawab Si Penyumpit.
” wah... padahal kamu sudah jadi orang terkaya dikampung ini! Tapi masih juga makan disni?” kata Pak Raje.
” Orang kaya gak harus sombong kan, pak! Kita harus tetap rendah hati!” kata Si Penyumpit.
” ih... ahlinya ka pake sumpit!” kata Pak Raje.
” Si Penyumpit gitu lho!” kata Si Penyumpit.
” hahaha... kau ni!” kata Pak Raje.
” eh... abis makan nanti dateng ke rumah bapak ya!” kata Pak Raje.
” iya pak!” kata Si Penyumpit.
Dirumah Pak Raje.
” Assalamu’alaikum!”.
” Wa’alaikum salam!”.
” pak, ada apa saya dipanggil kesini?” tanya Si Penyumpit.
” nih... kenalkan, anak bapak, Nuer!” kata Pak Raje.
” eh... hehehe... saya, Tema’u!” kata Si Penyumpit memperkenalkan diri.
” Nuer!” kata Nuer.
” nah, saya sudah tanya sama Nuer, dia mau dijodohkan sama kamu atau tidak, dan jawabannya mau, kamu mau tidak?” tanya Pak Raje.
” kapan bapak menanyakannya?” tanya Si Penyumpit.
” ya... diam-diam bapak mengajak Nuer untuk memata-matai kamu! Dia setuju tuh!” kata Pak Raje.
” iya, nak Tema’u! Mau tidak?” tanya Bu Ratu.
Si Penyumpit terdiam sejenak. Kemudian tersenyum.
” hmm. J” kata Si Penyumpit, tandanya...
” mau?” tanya Bu Ratu.
” iya!” jawab Si Penyumpit.
” eh... Nuer! Akhirnya kamu nikah juga! Alhamdulillah!” kata Bu Ratu.
” ibu ini!” kata Nuer yang agak sedikit malu.
Setelah itu pun mereka segera melangsungkan pernikahan yang dilakukan dengan hikmat dan sesuai rencana, dan mereka pun hidup bahagia selamanya.
Tamat

AlyaNidaTM
 
Copyright 2009 TM Story. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase