Vena Valisa
“Wah... keren banget novelnya! Gue mau beli yang ini aja deh!” girang Sella sambil memeluk-meluk novel yang berjudul My Heart Just For You.
“Yah... gue juga mau novelnya! Yaudah deh, mending gue minjem ama elo aja, lumayan, hemat biaya!” kata Renata, gadis 14 tahun yang memiliki keturunan Jakarta-Madura, akan tetapi tak disangka-sangka, kulitnya berwarna sawo mateng, padahal bapak dan ibunya berkulit putih dan coklat, berarti keturunan kali ini menghasilkan intermediat ya. “Ye... enak aja! Itu mah elo-nya yang keenakan!” sanggah Sella, gadis 15 tahun yang merupakan kakak dari Renata, Cuma bedanya, kulit Sella 180o lebih putih dari Renata.
“Ternyata banyak lho novel yang dikarang sama Vena Valisa, yang buat novel ini!” kata Berni sambil menunjuk novel yang dipegang oleh Sella dengan telunjuk kanannya.
“Hah... mana? Gue mau beli dong!” kata Renata. Berni pun mengajak Renata ke salah satu sudut di toko buku tersebut, dan hasilnya,
“Wow... karangan Vena Valisa semua! Ada... 1, 2, 3, wah... banyak banget!” kagum Renata.
“Lebai and Udik mode ON” kata Berni, gadis 16 tahun yang merupakan teman se-sekolah Lee. Cewe indo-jerman ini memiliki kulit yang hitam, akan tetapi wajahnya sangat manis, dan tidak sedikit juga cowo yang naksir sama dia, bahkan issue-nya, dia sudah memiliki 10 mantan sampai saat ini, banyak juga ya?!
“Gue jadi penasaran sama si pengarang novel yang bejibun ini, gimana ya orangnya? Kita samperin yuk rumahnya!” ajak Lee, gadis indo cina berkulit putih yang berumur 16 tahun. Gadis ini merupakan gadis yang paling cantik dan paling manis di antara teman-teman bermainnya. Banyak cowo yang naksir sama dia, tapi sayangnya, dia masih mau lajang sampai nanti dia duduk di bangku kuliah.
“Ayo, ayo! Nanti kita minta novelnya yang baaaanyaaakk!” girang Sella dan Renata, karena kegirangan mereka berdua itu lah, server di toko buku tersebut harus lelah letih berjalan menghampiri mereka berdua dan mengatakan, “Mohon tenang ya!”.
ííí
Di depan toko buku.
“Yah... gak ada alamat pengarangnya. Jadi kita harus gimana dong?” tanya Sella kecewa. Renata pun jadi ikut kecewa.
“Em... gimana ya? Yaudah deh, mending kita main ke rumah Je aja yuk!” ajak Lee. Dengan perasaan kecewa, Sella dan Renata pergi meninggalkan toko buku, tapi beda halnya dengan Lee dan Berni, wajah tak beremosi menghiasi wajah mereka berdua.
Mereka berempat pun naik ke mobil yang dikendarai oleh Lee. Berni duduk di sampingnya, sedangkan kakak-beradik Sella dan Renata duduk di bangku kedua.
“Are you ready?” tanya Lee. “Yeah!” sahut Berni, Sella, dan Renata serempak.
ííí
“Jeje...” sahut Sella, Renata, Berni, dan Lee bersamaan. Jenifer, gadis 15 tahun yang merupakan keturunan indo-amsterdam keluar dari rumahnya.
“Eh, kalian! Ayo masuk! Kok mau kesini gak bilang-bilang sih? Gue kan masih rombeng kayak gini!” kata Jenifer sambil menunjukan tubuhnya yang masih diselimuti baju tidur bergambar teddy bear yang berlengan dan bercelana panjang.
“Elo-nya juga yang stres, sekarang udah jam 11 siang, Jeje!” kata Berni.
“Umm... yaudah, gue salah. Ehh, masuk yuk! Nanti kalian tunggu gue mandi dulu di kamar, baru kita jalan-jalan, oke?!” kata Jenifer. Sella, Renata, Lee, dan Berni pun masuk ke dalam rumah Jenifer, tepatnya di kamar Jenifer.
“Sambil nungguin Jeje mandi, mending baca novel karangan Vena Valisa dulu” kata Sella. “Emang lu doang yang punya?! Gue juga punya!” kata Renata yang tidak mau kalah.
“Yailah... kakak adek mulai lagi deh berantemnya!” kata Berni.
Tidak lama kemudian Jenifer datang dan semua berubah. Rambut yang sebelumnya acak-acakan, sekarang berubah menjadi rapi dan wangi, kulit yang awalnya keriput pucat, berubah menjadi halus dan lembut, muka yang awalnya kusut dan penuh belek, sekarang berubah menjadi bersih dan indah, dan pakaian yang sebelumnya kusut dan apek, sekarang bersih, rapi, dan wangi. Memang, kalau tandingan dandan sama Jenifer, cewe inilah jagonya.
“Jia... udah keren deh sekarang! Mantap!” puji Sella sambil mengacungkan dua jempol kepada Jenifer. Jenifer pun bertepuk tangan kegirangan.
“Eh, bay the way, itu novel apa? Liat dong!” pinta Jenifer. Sella pun memberikan novelnya kepada Jenifer. Melihat nama pengarang yang membuat novel tersebut, Jenifer langsung terdiam kaku.
“Kenapa, Je?” tanya Lee. Jenifer mengembalikan novel tersebut kepada Sella.
“Gue tau siapa yang ngarang novel itu sebenarnya” kata Jenifer gugup. Suasana berubah menjadi tegang.
“Maksud elo, lo tau dimana alamat si pengarang ini?” tanya Renata. Jenifer mengangguk pelan. Sella dan Renata langsung menghampiri Jenifer dan menatap tajam mata Jenifer.
“Ayo kita kesana!” ajak Sella. “Gak mau!” respon Jenifer panik.
“Kenapa?” tanya Renata kecewa. “Padahal gue nge-fans banget sama pengarang novel ini” kata Sella. Mendengar pernyataan Renata dan Sella, Jenifer langsung merasa bersalah apabila ia harus meruntuhkan semangat kedua sahabatnya itu.
“Em... yaudah deh, kalo itu mau kalian, ayo kita kesana!” ajak Jenifer.

0 komentar:
Posting Komentar