Si Penyumpit
Alkisah, di tanah Bangka hiduplah seorang anak laki-laki bernama Tema’u, dia adalah seorang anak yang sangay lincah dan baik hati. Akan tetapi dia adalah anak Yatim Piatu, karena ibu dan ayahnya meninggal saat dia berumur 6 tahun. Diakibatkan angin puting beliung yang melewati rumahnya di Jl. Mentok saat itu. Sekarang dia harus mengurus dirinya sendiri diumurnya yang masih cukup muda, 10 tahun.
Tetapi saat dia sudah menjadi seorang lelaki nerumur 20 tahun. Bahkan dia adalah seorang pemburu yang hebat! Seorang pemburu yang biasa memakai sumpit. Keahlian itu memang sudah dimilikinya atas keturunan dari bapaknya. Selain itu juga dia adalah seorang yang bisa mengobati segala macam penyakit. Kehlian itu juga datang dari bapaknya. Hingga pada suatu hari, dia berburu kambing dihutan dengan menggunakan sumpitnya, dengan berhati-hati, dia menangkap kambing itu dengan menancapkan sumpitnya. Kahirnya, banyak orang yang menyebutnya Si Penyumpit.
Dia sekarang telah menjadi seorang yang sangat kaya raya dan terkenal ditempat tinggalnya, Kampung Opas.
Suatu hari, Pak Raje merasa padi yang ditanamnya mulai mati beberapa. Pak Raje sangat kecewa dan benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan satu-satunya sumber kehidupan keluarga Pak Raje.
” oh... ibu, cemane pulik padi kite jadi macem tuh?! Ancu’ gale! ( ibu bagaimana ini? Semuanya hancur!)” kata Pak Raje kepada istrinya. Pak Raje terlihat sangat lelah dan stress.
” yo...lah, pak! Tak usah macem tuh! Mending bapak tidu’ bae! Kelak e emak yang ngurus, ok! ( sudah, pak! Lebih baik bapak tidur saja, semua ibu yang urus!)” kata Bu Ratu, istri Pak Raje.
” dek acak bu! Kalo padi kite mati, kelak kite makan ape? ( tak bisa, bu! Kalau padi kita mati bagaimana?)” tanya Pak Raje.
” tenang lah, pak! Kite sabar aje! Kita serahkan ni kepada Allah! ( tenang saja pak, kita serahkan semuanya kepada Allah!)” kata Bu Ratu sambil menenangkan hati Pak Raje.
” terus cemane sekarang? ( lalu bagaimana sekarang?)” tanya Pak Raje.
” tenang bae! Sekarang bapak tidu’ dulu! Kelak bapak sakit, siape yang ngurus padi e! (tenang saja! Bapak tidur sekarang! Nanti kalau bapak sakit, siapa yang mengurus padinya?)” kata Bu Ratu.
” aok lah pun! Ku tidu’ dulu, ok!” kata Pak Raje.
” ye lah!” respon Bu Ratu.
Malam harinya.
“ bu!” panggil Pak Raje kepada istrinya.
“ ape, pak! Lah malem. Jangan teriak-teriak!” kata Bu Ratu sambil mendekati Pak Raje.
” bu, gimana kalau kite buat ranjau untuk nyari tau ape yang ngerusakin padi kite! ( bagaimana kalau kita membuat jebakan untuk mengetahui apa yang merusak padi kita!)” kata Pak Raje.
” em... tak usah lah, pak! Kelak bahaya!” kata Bu Ratu.
” ih... cemane pulik ka tuh, Rat! Kalo tuh pengantet dak kite temu, mati kta kelak e! ( bagaimana kamu ini, Rat! Kalau kita tidak menemukan perusaknya, bagaimana nanti, kita bisa mati!)” kata Pak Raje dengan sedikit emosi.
Kemudian ia pun pergi kekamar tidurnya untuk tidur.
Esok hari.
Pak Raje terlihat sangat sibuk untuk membuat jebakan terhadap sesuatu yang merusak padinya. Pak Raje menyiapkan perangkap sesempurna mungkin agar padinya selamat.
” ih... bapak nih! Aku sudah bilang, ora masang perangkap, ngeyel aja, biar kitanya sendiri, biar tahu rasa!” kata Bu Ratu yang berada dibalik jendela.
” Ratu!” panggil Pak Raje kepada istrinya.
” ape geh pak?” tanya Bu Ratu sambil mendekati Pak Raje.
” bu, hape bapak geter nih! Tolong ambil!” kata Pak Raje.
Bu Ratu pun mengambil hape yang berketar dari kantong Pak Raje. Tarlihat panggilan masuk dari Nuer.
” siape Nuer nih, pak?” tanya Bu Ratu dengan nada agak marah.
” Nuer? Masak ka lupe geh?!” kata Pak Raje.
” tak usah mengelak, siape ni?” tanya Bu Ratu yang terlihat semakin geram.
” angkatlah dulu!” kata Pak Raje.
” halo!” kata Bu Ratu.
” bu, ni Nuer, bu! Ape kabar e disane?” tanya Nuer. Anak Pak Raje dan Bu Ratu.
“ ich… Nuer nih? Anak ibu?” tanya Bu Ratu.
” aok lah! Siape agik!” jawab Nuer.
” tuh he! Jangan nyangke yang enggak-enggak! Angkatlah dulu” kata Pak Raje yang sedikit terhibr dari kejadian tersebut.
” kan gak tau, pak!” kata Bu Ratu.
” eh... cemane kabar ka, nak? Baek lah!” kata Bu Ratu.
” ya... iyalah, bu! Eh... Nuer mau kesane kelak e! Em... mungkin hari minggu kayak e!” kata Nuer.
” iye kah? Alhamdulillah! Bagus lah pun!” kata Bu Ratu.
” eh... ape bu?” tanya Pak Raje.
“ diem lah dulu! Ibu agik ngomong kek Nuer!” kata Bu Ratu.
” ih... bapak neg! Gantian! Gantian!” kata Pak Raje.
” eh... mak, pak! Nuer neg ngomong nih! Jangan bekelai disane!” kata Nuer.
” ih... diam nih, pak! Nuer neg ngomong!” kata Bu ratu.
” aok lah pun! Ngomong sek!” kata pak raje yang mengalah.
” ape nak?” tanya Bu Ratu.
” Nuer kan nanti neg pulang, karena lah lame di Jakarta. Tak apa ok!” kata Nuer.
” pulang lah, Nuer! Jangan malu-malu! Nanri kamu langsung married disini!” kata Bu Ratu.
” ya... udah dulu ya, bu! Assalamu’alaikum!” kata Nuer.
” Wa’alaikum salam!” jawab Bu Ratu.
” eh... bapak neg ngomong!” kata Pak Raje.
” lah mati!” kata Bu Ratu.
” ich... ka nih!”.
Tak sengaja, ranjau yang Pak Raje buat, langsung melukai tangannya.
” ouh!” rintih Pak Raje.
” tu... lah! Dibilang gak usah buat ranjau, malah buat! Cemane!” kata Bu Ratu.
” bising ka tuh!”.
Esok hari.
” cemane cara nangkep si penghancur padi nih?” pikir Pak Raje.
“ eh… ibu punya ide! Gimana kalau kita minta Si Penyumpit untuk nangkep tuh perusak!” kata Bu Ratu.
” hmm... bagus juga tuh!”.
Bu Ratu langsung menyuruh Si Penyumpit untuk menemukan pelaku kerusakan padi Pak Raje.
” oh... Tema’u, tolong carikan perusak padi kami ya!” kata Bu Ratu.
” sip... lah!” kata Tema’u.
Malam harinya, Tema’u atau Si Penyumpit mengawasi padi Pak Raje.
Tiba-tiba lewat segerombolan babi yang sibuk mengambil dan merusak padi Pak Raje.
” o... jadi babi-babi ini tang mengambil padi Pak Raje!” kata Si Penyumpit.
Dengan perlahan Si Penyumpit menusukkan sumpitnya kedalam tubuh salah satu babi yang ada, kemudian babi-babi itu melarikan diri.
Karena penasaran dengan sumber babi-babi itu, Si Penyumpit pun mengikuti babi-babi itu diam-diam.
Sampai disuatu goa.
” siapa kau?” tanya seorang wanita yang sepertinya ibu ari seorang wanita yang didekapnya itu. Bersama dengan kawanannya yang lain, mereka menatap Si Penyumpit itu dengan penuh tanda tanya.
” saya Tema’u. Dari Opas!” kata Tema’u Si Penyumpit.
” ada apa dengannya?” tanya Si Penyumpit.
“ dia terluka! Ada sesatu yang melukai tubuhnya.” kata wanita tua itu.
” itu sumpitku!” kata Si Penyumpit.
Wanita tua aitu sangat sedih sekali melihat kondisi putrinya.
” kalian babo jadi-jadian?” tanya Si Penyumpit.
” hmm” jawab salah satunya.
” baik, ku neg nyembuhinnya, tapi ada satu syarat!” kata Si Penyumpit.
” apa?” tanya wanita tua yang sudah tak berdaya tadi.
” siapkan satu saja daun ...” kata Si Penyumpit.
Setelah semua barang yang dibutuhkan telah tersedia, Si Penyumpit pun segera menyembuhkan luka wanita yang terluka tadi.
Si Penyumpit membacakan sebuah mantra untuk menyembuhkan wanita yang terluka.
Perlahan sumit yang melukai tubuhnya dikeluarkan oleh Si Penyumpit.
” anakku!”.
” ibu!”.
Wanita itu pun sembuh tanpa meninggalkan luka sedikit pun.
Dengan senang hati wanita tua tadi itu pun memberikan sebuah kantong berisi biji kakao, biji kelapa sawit, dan 8 buah biji rambutan.
” bukalah kantong ini dirumahmu, setelkah kau sampai dirumah, jangan diluar rumah” katanya.
” ya... makasih!” kata Si Penyumpit.
Sesampai dirumah Si Penyumpit, dia pun segera membuka kantong yang diberikan wanita tua itu tadi.
Dan... wow! Kantong itu berisi emas, perak, dan banyak seklau berlian juga mutiara!
” ya... ampun!” kaget Si Penyumpit.
Kemudian ia pun berterimakasih kepada tuhan karena telah memberikannya rezeki yang berlimpah.
Esok hari.
” nak, terimakasih sekali kamu sudah menolong saya!” kata Pak Raje kepada Si Penyumpit.
” sama-sama, pak!” kata Si Penyumpit.
” ini, sedikit imbalan untuk kamu!” kata Pak Raje.
” oh... tak usah, pak! Utnuk bapak saja!” kata Si Penyumpit.
” bainya kau! Makasih ya, nak!” kata Pak Raje.
” ye!”.
Pada hari Minggu yang cerah, Si Penyumpit terlihat sedang sibuk mengurusi rumah yang akan dia bangun kembali.
” eh... Tema’u, repot e!” kata Pak Raje.
” aok, pak! Agik neg ngerenovasi rumah!” kata Si Penyumpit.
” rajin e! Bagus!” kata Pak Raje.
” eh... bapak rapih bener?” tanya Si Penyumpit.
” hehehe... anak bapak dari Jakarta nih mau dateng, namanya Neur, nanti mau gak kamu bapak jodohkan dengannya?” tanya Pak Raje.
” hahaha... bapak bisa aja!” kata Si Penyumpit.
” anaknya cakep kok!” kata Pak Raje.
” ya.... tergantung anaknya lah!” kata Si Penyumpit.
” eh... ka tuh, jangan malu-malu kek bapak! Anggaplah bapak nih bapakmu! Tapi kalau ka lah nikah kek anak bapak!” kata Pak Raje.
” hahaha... bapak!” kata Si Penyumpit.
” ya... udah deh! Lah jam segini! Bapak neg jemput anak bapak dulu ok! Neg ikut dak?” tanya Pak Raje.
” bapak bae! Ku agik jaga ni” kata Si Penyumpit.
” ya... udah, bapak pegi dulu, ok!” kata Pak Raje.
” emm...”.
Siang hari.
Si Penyumpit terlihat sedang makan mie ayam depan kantor pos, tempat dia makan biasanya.
” nak, agik gawe ape ka disini?” tanya Pak Raje.
” makan lah, pak!” jawab Si Penyumpit.
” wah... padahal kamu sudah jadi orang terkaya dikampung ini! Tapi masih juga makan disni?” kata Pak Raje.
” Orang kaya gak harus sombong kan, pak! Kita harus tetap rendah hati!” kata Si Penyumpit.
” ih... ahlinya ka pake sumpit!” kata Pak Raje.
” Si Penyumpit gitu lho!” kata Si Penyumpit.
” hahaha... kau ni!” kata Pak Raje.
” eh... abis makan nanti dateng ke rumah bapak ya!” kata Pak Raje.
” iya pak!” kata Si Penyumpit.
Dirumah Pak Raje.
” Assalamu’alaikum!”.
” Wa’alaikum salam!”.
” pak, ada apa saya dipanggil kesini?” tanya Si Penyumpit.
” nih... kenalkan, anak bapak, Nuer!” kata Pak Raje.
” eh... hehehe... saya, Tema’u!” kata Si Penyumpit memperkenalkan diri.
” Nuer!” kata Nuer.
” nah, saya sudah tanya sama Nuer, dia mau dijodohkan sama kamu atau tidak, dan jawabannya mau, kamu mau tidak?” tanya Pak Raje.
” kapan bapak menanyakannya?” tanya Si Penyumpit.
” ya... diam-diam bapak mengajak Nuer untuk memata-matai kamu! Dia setuju tuh!” kata Pak Raje.
” iya, nak Tema’u! Mau tidak?” tanya Bu Ratu.
Si Penyumpit terdiam sejenak. Kemudian tersenyum.
” hmm. J” kata Si Penyumpit, tandanya...
” mau?” tanya Bu Ratu.
” iya!” jawab Si Penyumpit.
” eh... Nuer! Akhirnya kamu nikah juga! Alhamdulillah!” kata Bu Ratu.
” ibu ini!” kata Nuer yang agak sedikit malu.
Setelah itu pun mereka segera melangsungkan pernikahan yang dilakukan dengan hikmat dan sesuai rencana, dan mereka pun hidup bahagia selamanya.
Tamat
AlyaNidaTM

0 komentar:
Posting Komentar