Sabtu, 26 Maret 2011

Si Penyumpit

Si Penyumpit

Alkisah, di tanah Bangka hiduplah seorang anak laki-laki bernama Tema’u, dia adalah seorang anak yang sangay lincah dan baik hati. Akan tetapi dia adalah anak Yatim Piatu, karena ibu dan ayahnya meninggal saat dia berumur 6 tahun. Diakibatkan angin puting beliung yang melewati rumahnya di Jl. Mentok saat itu. Sekarang dia harus mengurus dirinya sendiri diumurnya yang masih cukup muda, 10 tahun.
Tetapi saat dia sudah menjadi seorang lelaki nerumur 20 tahun. Bahkan dia adalah seorang pemburu yang hebat! Seorang pemburu yang biasa memakai sumpit. Keahlian itu memang sudah dimilikinya atas keturunan dari bapaknya. Selain itu juga dia adalah seorang yang bisa mengobati segala macam penyakit. Kehlian itu juga datang dari bapaknya. Hingga pada suatu hari, dia berburu kambing dihutan dengan menggunakan sumpitnya, dengan berhati-hati, dia menangkap kambing itu dengan menancapkan sumpitnya. Kahirnya, banyak orang yang menyebutnya Si Penyumpit.
Dia sekarang telah menjadi seorang yang sangat kaya raya dan terkenal ditempat tinggalnya, Kampung Opas.
Suatu hari, Pak Raje merasa padi yang ditanamnya mulai mati beberapa. Pak Raje sangat kecewa dan benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan satu-satunya sumber kehidupan keluarga Pak Raje.
” oh... ibu, cemane pulik padi kite jadi macem tuh?! Ancu’ gale! ( ibu bagaimana ini? Semuanya hancur!)” kata Pak Raje kepada istrinya. Pak Raje terlihat sangat lelah dan stress.
” yo...lah, pak! Tak usah macem tuh! Mending bapak tidu’ bae! Kelak e emak yang ngurus, ok! ( sudah, pak! Lebih baik bapak tidur saja, semua ibu yang urus!)” kata Bu Ratu, istri Pak Raje.
” dek acak bu! Kalo padi kite mati, kelak kite makan ape? ( tak bisa, bu! Kalau padi kita mati bagaimana?)” tanya Pak Raje.
” tenang lah, pak! Kite sabar aje! Kita serahkan ni kepada Allah! ( tenang saja pak, kita serahkan semuanya kepada Allah!)” kata Bu Ratu sambil menenangkan hati Pak Raje.
” terus cemane sekarang? ( lalu bagaimana sekarang?)” tanya Pak Raje.
” tenang bae! Sekarang bapak tidu’ dulu! Kelak bapak sakit, siape yang ngurus padi e! (tenang saja! Bapak tidur sekarang! Nanti kalau bapak sakit, siapa yang mengurus padinya?)” kata Bu Ratu.
” aok lah pun! Ku tidu’ dulu, ok!” kata Pak Raje.
” ye lah!” respon Bu Ratu.
Malam harinya.
“ bu!” panggil Pak Raje kepada istrinya.
“ ape, pak! Lah malem. Jangan teriak-teriak!” kata Bu Ratu sambil mendekati Pak Raje.
” bu, gimana kalau kite buat ranjau untuk nyari tau ape yang ngerusakin padi kite! ( bagaimana kalau kita membuat jebakan untuk mengetahui apa yang merusak padi kita!)kata Pak Raje.
” em... tak usah lah, pak! Kelak bahaya!” kata Bu Ratu.
” ih... cemane pulik ka tuh, Rat! Kalo tuh pengantet dak kite temu, mati kta kelak e! ( bagaimana kamu ini, Rat! Kalau kita tidak menemukan perusaknya, bagaimana nanti, kita bisa mati!)” kata Pak Raje dengan sedikit emosi.
Kemudian ia pun pergi kekamar tidurnya untuk tidur.
Esok hari.
Pak Raje terlihat sangat sibuk untuk membuat jebakan terhadap sesuatu yang merusak padinya. Pak Raje menyiapkan perangkap sesempurna mungkin agar padinya selamat.
” ih... bapak nih! Aku sudah bilang, ora masang perangkap, ngeyel aja, biar kitanya sendiri, biar tahu rasa!” kata Bu Ratu yang berada dibalik jendela.
” Ratu!” panggil Pak Raje kepada istrinya.
” ape geh pak?” tanya Bu Ratu sambil mendekati Pak Raje.
” bu, hape bapak geter nih! Tolong ambil!” kata Pak Raje.
Bu Ratu pun mengambil hape yang berketar dari kantong Pak Raje. Tarlihat panggilan masuk dari Nuer.
” siape Nuer nih, pak?” tanya Bu Ratu dengan nada agak marah.
” Nuer? Masak ka lupe geh?!” kata Pak Raje.
” tak usah mengelak, siape ni?” tanya Bu Ratu yang terlihat semakin geram.
” angkatlah dulu!” kata Pak Raje.
” halo!” kata Bu Ratu.
” bu, ni Nuer, bu! Ape kabar e disane?” tanya Nuer. Anak Pak Raje dan Bu Ratu.
“ ich… Nuer nih? Anak ibu?” tanya Bu Ratu.
” aok lah! Siape agik!” jawab Nuer.
” tuh he! Jangan nyangke yang enggak-enggak! Angkatlah dulu” kata Pak Raje yang sedikit terhibr dari kejadian tersebut.
” kan gak tau, pak!” kata Bu Ratu.
” eh... cemane kabar ka, nak? Baek lah!” kata Bu Ratu.
” ya... iyalah, bu! Eh... Nuer mau kesane kelak e! Em... mungkin hari minggu kayak e!” kata Nuer.
” iye kah? Alhamdulillah! Bagus lah pun!” kata Bu Ratu.
” eh... ape bu?” tanya Pak Raje.
“ diem lah dulu! Ibu agik ngomong kek Nuer!” kata Bu Ratu.
” ih... bapak neg! Gantian! Gantian!” kata Pak Raje.
” eh... mak, pak! Nuer neg ngomong nih! Jangan bekelai disane!” kata Nuer.
” ih... diam nih, pak! Nuer neg ngomong!” kata Bu ratu.
” aok lah pun! Ngomong sek!” kata pak raje yang mengalah.
” ape nak?” tanya Bu Ratu.
Nuer kan nanti neg pulang, karena lah lame di Jakarta. Tak apa ok!” kata Nuer.
” pulang lah, Nuer! Jangan malu-malu! Nanri kamu langsung married disini!” kata Bu Ratu.
” ya...  udah dulu ya, bu! Assalamu’alaikum!” kata Nuer.
” Wa’alaikum salam!” jawab Bu Ratu.
” eh... bapak neg ngomong!” kata Pak Raje.
” lah mati!” kata Bu Ratu.
” ich... ka nih!”.
Tak sengaja, ranjau yang Pak Raje buat, langsung melukai tangannya.
” ouh!” rintih Pak Raje.
” tu... lah! Dibilang gak usah buat ranjau, malah buat! Cemane!” kata Bu Ratu.
” bising ka tuh!”.
Esok hari.
” cemane cara nangkep si penghancur padi nih?” pikir Pak Raje.
“ eh… ibu punya ide! Gimana kalau kita minta Si Penyumpit untuk nangkep tuh perusak!” kata Bu Ratu.
” hmm... bagus juga tuh!”.
Bu Ratu langsung menyuruh Si Penyumpit untuk menemukan pelaku kerusakan padi Pak Raje.
” oh... Tema’u, tolong carikan perusak padi kami ya!” kata Bu Ratu.
” sip... lah!” kata Tema’u.
Malam harinya, Tema’u atau Si Penyumpit mengawasi padi Pak Raje.
Tiba-tiba lewat segerombolan babi yang sibuk mengambil dan merusak padi Pak Raje.
” o... jadi babi-babi ini tang mengambil padi Pak Raje!” kata Si Penyumpit.
Dengan perlahan Si Penyumpit menusukkan sumpitnya kedalam tubuh salah satu babi yang ada, kemudian babi-babi itu melarikan diri.
Karena penasaran dengan sumber babi-babi itu, Si Penyumpit pun mengikuti babi-babi itu diam-diam.
Sampai disuatu goa.
” siapa kau?” tanya seorang wanita yang sepertinya ibu ari seorang wanita yang didekapnya itu. Bersama dengan kawanannya yang lain, mereka menatap Si Penyumpit itu dengan penuh tanda tanya.
” saya Tema’u. Dari Opas!” kata Tema’u Si Penyumpit.
” ada apa dengannya?” tanya Si Penyumpit.
“ dia terluka! Ada sesatu yang melukai tubuhnya.” kata wanita tua itu.
” itu sumpitku!” kata Si Penyumpit.
Wanita tua aitu sangat sedih sekali melihat kondisi putrinya.
” kalian babo jadi-jadian?” tanya Si Penyumpit.
” hmm” jawab salah satunya.
” baik, ku neg nyembuhinnya, tapi ada satu syarat!” kata Si Penyumpit.
” apa?” tanya wanita tua yang sudah tak berdaya tadi.
” siapkan satu saja daun ...” kata Si Penyumpit.
Setelah semua barang yang dibutuhkan telah tersedia, Si Penyumpit pun segera menyembuhkan luka wanita yang terluka tadi.
Si Penyumpit membacakan sebuah mantra untuk menyembuhkan wanita yang terluka.
Perlahan sumit yang melukai tubuhnya dikeluarkan oleh Si Penyumpit.
” anakku!”.
” ibu!”.
Wanita itu pun sembuh tanpa meninggalkan luka sedikit pun.
Dengan senang hati wanita tua tadi itu pun memberikan sebuah kantong berisi biji kakao, biji kelapa sawit, dan 8 buah biji rambutan.
” bukalah kantong ini dirumahmu, setelkah kau sampai dirumah, jangan diluar rumah” katanya.
” ya... makasih!” kata Si Penyumpit.
Sesampai dirumah Si Penyumpit, dia pun segera membuka kantong yang diberikan wanita tua itu tadi.
Dan... wow! Kantong itu berisi emas, perak, dan banyak seklau berlian juga mutiara!
” ya... ampun!” kaget Si Penyumpit.
Kemudian ia pun berterimakasih kepada tuhan karena telah memberikannya rezeki yang berlimpah.
Esok hari.
” nak, terimakasih sekali kamu sudah menolong saya!” kata Pak Raje kepada Si Penyumpit.
” sama-sama, pak!” kata Si Penyumpit.
” ini, sedikit imbalan untuk kamu!” kata Pak Raje.
” oh... tak usah, pak! Utnuk bapak saja!” kata Si Penyumpit.
” bainya kau! Makasih ya, nak!” kata Pak Raje.
” ye!”.
Pada hari Minggu yang cerah, Si Penyumpit terlihat sedang sibuk mengurusi rumah yang akan dia bangun kembali.
” eh... Tema’u, repot e!” kata Pak Raje.
” aok, pak! Agik neg ngerenovasi rumah!” kata Si Penyumpit.
” rajin e! Bagus!” kata Pak Raje.
” eh... bapak rapih bener?” tanya Si Penyumpit.
” hehehe... anak bapak dari Jakarta nih mau dateng, namanya Neur, nanti mau gak kamu bapak jodohkan dengannya?” tanya Pak Raje.
” hahaha... bapak bisa aja!” kata Si Penyumpit.
” anaknya cakep kok!” kata Pak Raje.
” ya.... tergantung anaknya lah!” kata Si Penyumpit.
” eh... ka tuh, jangan malu-malu kek bapak! Anggaplah bapak nih bapakmu! Tapi kalau ka lah nikah kek anak bapak!” kata Pak Raje.
” hahaha... bapak!” kata Si Penyumpit.
” ya... udah deh! Lah jam segini! Bapak neg jemput anak bapak dulu ok! Neg ikut dak?” tanya Pak Raje.
” bapak bae! Ku agik jaga ni” kata Si Penyumpit.
” ya... udah, bapak pegi dulu, ok!” kata Pak Raje.
” emm...”.
Siang hari.
Si Penyumpit terlihat sedang makan mie ayam depan kantor pos, tempat dia makan biasanya.
” nak, agik gawe ape ka disini?” tanya Pak Raje.
” makan lah, pak!” jawab Si Penyumpit.
” wah... padahal kamu sudah jadi orang terkaya dikampung ini! Tapi masih juga makan disni?” kata Pak Raje.
” Orang kaya gak harus sombong kan, pak! Kita harus tetap rendah hati!” kata Si Penyumpit.
” ih... ahlinya ka pake sumpit!” kata Pak Raje.
” Si Penyumpit gitu lho!” kata Si Penyumpit.
” hahaha... kau ni!” kata Pak Raje.
” eh... abis makan nanti dateng ke rumah bapak ya!” kata Pak Raje.
” iya pak!” kata Si Penyumpit.
Dirumah Pak Raje.
” Assalamu’alaikum!”.
” Wa’alaikum salam!”.
” pak, ada apa saya dipanggil kesini?” tanya Si Penyumpit.
” nih... kenalkan, anak bapak, Nuer!” kata Pak Raje.
” eh... hehehe... saya, Tema’u!” kata Si Penyumpit memperkenalkan diri.
” Nuer!” kata Nuer.
” nah, saya sudah tanya sama Nuer, dia mau dijodohkan sama kamu atau tidak, dan jawabannya mau, kamu mau tidak?” tanya Pak Raje.
” kapan bapak menanyakannya?” tanya Si Penyumpit.
” ya... diam-diam bapak mengajak Nuer untuk memata-matai kamu! Dia setuju tuh!” kata Pak Raje.
” iya, nak Tema’u! Mau tidak?” tanya Bu Ratu.
Si Penyumpit terdiam sejenak. Kemudian tersenyum.
” hmm. J” kata Si Penyumpit, tandanya...
” mau?” tanya Bu Ratu.
” iya!” jawab Si Penyumpit.
” eh... Nuer! Akhirnya kamu nikah juga! Alhamdulillah!” kata Bu Ratu.
” ibu ini!” kata Nuer yang agak sedikit malu.
Setelah itu pun mereka segera melangsungkan pernikahan yang dilakukan dengan hikmat dan sesuai rencana, dan mereka pun hidup bahagia selamanya.
Tamat

AlyaNidaTM

Aku dan Bank

            “ …kelompok siapa yang bisa mewancarai seseorang dengan baik, maka kelompok tersebut akan mendapat nilai A plus” kata guru anak kelas 8c, bu Tiara. “ baik, bu!” respon anak-anak serentak. “ ibu hanya memberi kalian waktu 2 minggu, jadi manfaatkan waktu itu dengan baik, dan yang mengumpulkan tugas tercepat, akan mendapat nilai plus juga!” kata Bu Tiara. “ baik, bu!” jawab anak-anak serentak. Bel tanda istirahatpun berbunyi tanda jam istirahat. Anank-anak sudah bersiap-siap untuk pergi keluar kelas. “ tunggu sebentar anak-anak!” kata Bu Tiara. “ yah…” kecewa anak-anak sekelas. “ ingat pesan ibu untuk selalu menabung, jangan boros! Karena tabungan kita itu akan bermanffat saat kita besar nanti!” kata Bu Tiara lalu pergi keluar kelas. “ ya…iyalah kita bakal nabung, masa enggak sih!” kata Alivh yang agak sedikit meremehkan kata-kata Bu Tiara tadi. “ menabung si menabung, tapi bukan untuk dewasa nanti, tapi untuk dua minggu lagi, kan kebanyakan uangnya!” kata Gina bercanada. “ ya..iyalah! bisa kejang-kejang gue gak jajan 1 minggu aja!” kata Alivh. “ btw kita gimana nih kerjanya?” Tanya Sabrina. “ em…tinggal cari orangnya, beres!” kata Tri. “ oh…gue puny ide, ada tuh om gue punya perusahaan batu bara! Gue bisa minta ama om gue untuk jadi orang yang mau kita wawancarain, gimana?” Tanya Sabrina. “ oke-oke aja deh! Yang penting nilai kita bagus!” kata Alivh. “ gue rasa kita gak ada waktu untuk wawancarain, gimana kalau kita suruh orang?” Tanya Gina. “ its oke!” kata Alivh. Dihalaman belakang sekolah High Ligh, Jakarta. “ jadi kamu sama Putri nyari orang yang bisa kita ajak wawancara, aku sama Ajeng nyiapin barang yang akan kita gunakan!” kata Alya dengan nada bijak. “ ya...oke deh!” kata Rizky dan Putri serentak. “ eh…kita sama ngomongnya!” kata Putri. “ sehati gitu! Hahaha!” tawa Rizky. “ ya…udah, usahain kita bisa kerja hari kamis ini!” kata Ajeng, “ sekarang hari selasa, berarti 2 hari lagi dong!” kata Putri. “ ya…iyalah!” kata Alya. “ btw kita mau ngsih nama kelompok kita ini apa?” Tanya Ajeng dengan gaya yang sok cool. “ em…gimana kalo p4, pandai, pintar, periang, and…” kata Alya. “ PRIKITIW!” lanjut Putri. “ hahaha!” tawa mereka berempat. “ jadi mau gak pake yang itu?” Tanya Alya. “ kenapa enggak!” kata Ajeng. “ oke-oke aja!” kata Putri. Saat itu sempat yerdiam sejenak menunggu keputusan dari Rizky. “ oke juga, tuh!” kata risky sambil mnegangkat jempolnya. “ oke, p empat!” kata Putri. “ gak! Yapi p four!” kata Ajeng. “ ya…lebih keren didkit!” kata Alya dengan mengeleng-gelengkan kepalanya.
            Esok hari, disekolah High Light. “ udah dapet belum orangnya?” Tanya Alya. “ udah…dong! Orangnya sukses pisan!” kata Putri. “ iya, atu! Sesuai dengan tema kita, awal dari keberhasilan!” kata Rizky. “ bagus-bagus! Udah janjian belom kalo kite mau datang hari Kamis?” Tanya Ajeng. “ udah dong! Awalnya kita hamper lupa untuk janjian, untungnya Putri ngingetin!” kata Rizky. “ Putri gitu lho!” kata Putri yang sok membanggakan dirinya. “ ya…udah, kalo gitu kalian udah ada barabgnya belom?” Tanya Rizky. “ udah…dong! Tiding!” kata Ajeng.
            Hari Kamispun tiba, sepulang sekolah, disekolah High Light. “ udah pada ijin belom ni ama orangtua?” Tanya Alya. “ udah…lah! Dah yok kita pergi!” kata Putri. Beberapa jam kemidian, merekapun sampai disebuah perkantoran besar ditengah kota. “ kamu yakin ni orang yang ada  disini mau kita wawancarain?” Tanya Ajeng. “ ya…iyakah! Mungkin kepala OB yang bakal kita wawancarain!” kata Alya bercanda. Rizky dan Putri kelihatan marah karena merasa usaha kerasnya telah dilecehkan. “ JUST KIDDING!” kata Alya sambil mengangkat kedua tangannya dan berkata “ piiis…”. Kemudian merekapun masuk kedalam perusahaan tersebut, bisa dikatakan perusahaan itu adalah perusahan minyak bumi international di Indonesia, wow…keren! Didalam perusahaan minyak tersebut, Alya, Putri, Rizky dan Ajeng menghampiri resepsionis untuk bertemu dengan pemilik perusahaan dengan menunjukkan surat kuasa. “ baik, adik bisa menunggu kehadiran Pak Akbar diruangannya!” kata seorang resepsionis kemudian mengantarkan mereka berempat keruangan Pak Akbar. Diruangan Pak Akbar. Resepsionis kemudian meninggalkan mereka berempat. “ selamat datang anak-anak!” spa Pak Akbar dengan ramah. “ pak, selamat berjumpa juga, sekarang kami telah membawa teman-teman kami untuk mewawancarai bapak.” Kata Rizky dengan sopan. “ baik, silahkan duduk” kata Pak Akbar. “ terimakasih, pak!” kata Ajeng. “ ini, surat penghantar kami dari sekolah High Light” kata Alya sambil menunjukan surat kuasa mereka. “ baik, bisa kita mulai!” kata Pak Akbar dengan ramah. Putripun menyiapkan perekam untuk merekam kata-kata yang diberi oleh narasumber, juga Rizky yang merekam video sepanjang wawancara. Setelah beberapa pertanyaan diajukan, akhirnya p4 menanyakan pertanyaan inti. “ saya ingin bertanya, bagaimanakah bapak dapat memiliki perusahaan ini, maksud kami dengan usaha apa gitu, pak?” Tanya Alya. “ ya, terimakasih, nak! Sebenarnya usaha saya untuk mendirikan perusahaan ini tidak dengan usaha kecil ataupun warisan, ini semua bermula dari saya. Pada saat itu…saya adalah anak yang dibilang tidak berada. Hidup dari keluarga yang broken home. Bahkan saat itu ayah saya adalah seorang pejudi berat. Setiap harta yang kami miliki selalu dijualnya untuk main judi. Saat itu saya masih duduk dibangku SD, “ liat tuh, anak seorang pejudi!” kata Hengky. Anak yang sangat usil dan jahat disekolah. “ kata mamah aku, aku gak boleh berteman dengan orang yang mempunyai orangtua yang gak tau diri!” kata Monia. “ mendingan kita tinggalin aja orang itu! Dia gak baik untuk kita” kata Hariguna. Selama itu, saya menjadi bahan ejekan oranng, saya pikir saya gak ada guna tinggal didunia ini, hanya jadi bahan lecehan! Bahkan waktu itu saya sempat terhasut oleh seorang teman saya. “ mendingan kamu bunuh diri aja! Lagian apa guna kamu hidup didunia ini kalo kamu aja gak pernah dihargain orang!” kata Ferza. Dan sayapun mencari tambang untuk gantung diri. Disuatu kontrakan, sayapun melakukan aksi saya itu, tapi tiba-tiba ibu saya kekontrakan itu! Dengan hati-hati saya mngumpat dan melihat apa yang dilakukan ibu, saat itu saya melihat ibu saya meletakan beberapa uang disuatu kotak yang terumpat. Setelah ibu pergi, saya melihat kotak itu, dan isinya adalah beberapa uang! “ ini uang? Ibu mempuyai uang sebnayak itu!?” kaget saya sambil memegang kotak tersebut. “ nak…” kata ibu tiba-tiba, saya jelas kaget! Saya merasa ibu telah keluar. “ apa yang kamu lakukan?” Tanya ibu saya. Jelas saya gak bisa berkata apa-apa. Sayapun berusaha menyembunyikan uang itu. Tiba-tiba ibu menangis, jelas saya merasa bersalah dengan menghampiri ibu pelan-pelan. Dan ibu memeluk saya erat-erat. “ nak, ibu ingin sekali kamu sekolah setinggi-tingginya! Ayahmu sudah tidak bisa diandalkan lagi. Ia sudah gila, nak!” kata ibu saya sambil menangis. “ ibu mau kamu mencapai cita-citamu! Dan ibu yakin kamu bisa, nak!” kata ibu saya sambil sedikt demi sedikit menghentikan aliran air matanya. Semenjak kejadian itu, kata-kata ibu menjadi motivasi untuk saya. Saat SMP, saya bermaksud untuk sekolah dikota  besar, tapi…ayah melarang saya untuk itu. Saya berusaha agar saya tetap bisa belajar dikota. Ibu saya membantu saya untuk pergi kekota. Dan ternyata saya bisa! Dikota tentu tidak mudah untuk hidup. Sedangkan saya diberi bekal oleh ibu hanya 25.000! sayapun berusaha untuk mengirit pengeluaran saya. Suatu hari saya mencari kos-kosan yang murah dan nyaman. Dan saya menemukannya. Beruntung pemiliknya mau memberi waktu untuk saya membayar 2 minggu lagi. Suatu hari saya berjalan-jalan ketaman, dan saya melihat beberapa bunga berwarna-warni, sayapun memiliki ide untuk berjualan bunga. Dan usaha saya berhasil! Akan tetapi saya tetap menjalankan kegiatan saya sebagai seorang pelajar disekolah yang bisa dikatakan execellent, dulu itu jarang ada sekolah international dijaman saya itu. Saat saya sedang menawarkan bunga disekitar jalan. Dan saya menemui gedung besar nan megah, gedung itu adalah Bank Indonesia (BI)! Sayapun berpikir untuk menyimpan uang saya diBank tersebut. Tapi…saya tidak mempunyai cukup uang untuk mnejadi nasabah baru diBank tersebut! Tapi saya tetap tidak putus asa, saya akan tetap berusaha. Pagi sampai siang saya sekolah, kemudian siang sampai sore saya berjualan bunga. Dan itu rutin saya lakukan. Sampai suatu hari, saya memiliki cukup uang untuk mnejadi nasabah baru diBank Indonesia. Sayapun memasuki gedung Bank Indonesia. Saya merasa agak sedikit deg-degan saat memasuki gedung itu! Maklum lah…saat itu saya baru dari kampong kekota Jakarta. Sayapun mendaftar untuk menjadi nasabah baru dan menabung beberapa uang di Teller.” Jelas Pak Akbar. “ lalu apakah yang bapak hadapi sampai bapak bisa sukses seperti ini?” Tanya Ajeng. “ suatu hari…sempat saya kehilangan buku tabungan saya! “ ya…ampun? Dimana buku tabunganku? Ada yang liat gak?” Tanya saya ke teman-teman sekos-kosan saya. “ loe lupa kali naro dimana, coba lo cari lagi!” kata sahabat saya, Fahreza. “ udah! Aku udah nyari kemana-mana! Tapi gak ketemu!” kata saya yang semakin panic. “ makanya, naro buku tabungan itu yang bener!” kata Ferza. Memang sih, saat saya ngekos itu, kebanyakan temen saya itu udah pada kerja! Tapi saya tetap enjoy! Pada saat itu saya merasa hidup saya tlah berakhir! “ santai aja, boy! Gue bisa kok Bantu lo!” kata Fahreza. “ tanks ya, bang!” kata saya yang agak sedikit lega. Ia pun memberi beberapa uang untuk persediaan saya beberapa hari itu. Kemudian saya pergi keBank untuk mengkonfirmasi hal yang terjadi pada diri saya. diBank Indonesia, dicostumer center, “ mbak, buku tabungan saya hilang!” kata saya. “ oh…apa adik masih punya kartu kredit?” Tanya mbak Ocha. “ iya. Mbak!” kata saya sambil mneunjukan kartu kredit dan KTP ibu saya. “ nah…kalau adik masih memiliki ini, adik bisa mngambil uang adik, tapi tida untuk menabung” kata mbak Ocha. “ oh…ya..udah mbak, makasih!” kata saya dengan perasaan lega, untungnya uang saya tidak hilang, karena uang itu saya gunakan untuk bayar kos-kosan dan sekolah, dan sayapun yakin bahwa Bank itu tempat penyimpanan uang terbaik, daripada dikantong! Karma uang itu tidak bisa diambil tanpa status yang jelas!” jelas Pak Akbar. “ lalu apakah bapak bermaksud untuk membuat tabungan baru?” Tanya Alya. “ iya, karena saya sangat membutuhan uang itu untuk kebutuhan saya, dan dengan cepat saya segera membuat tabungan baru dan memindahkan uang saya itu.” jawab Pak Akbar. “ apakah seusai kejadian itu bapak sudah merasa berhasil?” Tanya Ajeng. “ oh…tidak! Pada saat itu… setelah beberapa bulan kemudian, saya menghadapi ujian kenaikan kelas, jika kita ingin mnegikuti tes kenaikan kelas, kita harus melunasi administrasi sekolah, tandanya saya dikota sudah satu tahun ya! Dilain itu tepat dua minggu dalam bulan itu, saya harus membayar uang kos-kosan! Saat itu saya sempat bingung sekali! Saya sudah kehabisan akal, saat saya mengambil uang yang saya miliki di Bank, uang itu hanya cukup untuk membayar uang disalahsatunya! Kemudian Mbak Ocha, orang yang paling akrab diBank itu dengan saya, ia menawarkan suatu fasilitas peminjaman uang di Bank itu, awalnya…” dik, mendingan kamu gade’in aja barang kamu, siapa tahu bisa dipergunakan!” kata Mbak Ocha. “ saya gak punya apa-apa, mbak! Dari kampong saya hanya membawa pakaian dan dibawakan ibu uang sebanyak 25.000” kata saya yang saat itu sangat merasa stress. “ atau…kamu minjem aja uang diBank ini! Kamu bisa menggantikannya nanti!” kata Mabk Ocha. “ emang bisa?” Tanya saya. “ kamu coba aja gih!” kata Mbak Ocha. Sayapun mencoba meminjam uang secukupnya untuk membayar kos-kosan dan iuran sekolah, dan untungnya hal itu telah terselesaikan!” jelas Pak Akbar. “ lalu bagaimana hasil yang bapak peroleh setelah belajar dikota, apakah ada peningkatan?” Tanya Ajeng. “ iya. Saya menjadi juara kelas pada saat itu, dan juga juara umum! Berkat motivasi yang ibu saya berikan, saya mempunyai semangat untuk menggapai cita-cita saya” kata Pak Akbar. “ memang apa cita-cita bapak?” Tanya Alya. “ cita-cita saya itu ingin menjadi pengusaha, dan syukurlah saya bisa mnejadi pengusaha” jawab Pak Akbar. “ lalu bagaimana lagi ceritanya, pak?” Tanya Ajeng. “ semenjak hal itu, sayapun berusaha bekerja lebih keras lagi, saya berusaha agar hal yang saya alami waktu kelas 1 SMP itu tidak terulang lagi, dan saya sangat bersyukur karena semenjak hal itu, saya tidak mengalami hal itu lagi sampai 1 SMA. Saat itu, saya sudah bertekad untuk masuk keUniversitas Negri, salahsatunya Universitas Indonesia. Maka dari itu sayapun mengganti profesi saya sebagai pembawa acara di salahsatu Radio terlaris di Indonesia. Selama itu juga, saya hanya menabung diBank, tidak mengambilnya, dan tidak lupa sebelumnya hutang saya pada Bank itu sudah saya lunasi. Kebanyakan teman-teman saya dikos-kosan itu sudah pergi, karena banyak yang sudah menikah. diSMA itu saya akui bahwa tandingan saya itu tidak mudah untuk ditaklukan, akan tetapi saya berusaha untuk menaklukan mereka, walau saat kenaikan kelas 1 saya tidan mendapat juara 1 umum, tapi saya mendapat juara 2 umum, saya tetap mendapat bea siswa, dan itu sangat membantu. Dan waktu yang sangat membuat saya deg-degan, akhirnya saya masuk kejenjang perguruan tinggi, pada saat itu saya sangat membutuhkan uang yang bannyak, sayapun mengambil uang yang selama ini sudah saya tabung di Bank. Dan syukurlah, uang itu cukup untuk membayar uang pangkalnya! Ditambah dengan bunga yang saya terima! Em…bunga deposito! Selama saya kuliah, saya juga bekerja sebagai guru” kata Pak Akbar. “ pada saat itu bapak menganbil bidang apa ya, pak?” Tanya Alya. “ pada saat itu saya mengambil bidang bisnis dan menjemen!” jawab Pak Akbar. “ lalu bagaimana dengan hasil yang bapak peroleh?” Tanya Ajeng. “ cukup baik!” jawab Pak Akbar. “ lalu, prosees jadi pengusaha?” Tanya Alya. “ saya sedikit demi sedikit membuka lahan untuk bisnis saya itu! Saya mencari tanah, membuat gedung, saya bekerja sama dengan perusahaan minyak yang ada di Amerika, dan…itu semua bukan hal yang mudah, cukup lama proses penjawaban dari Amerika dan juga pemerintah Negara” kata Pak Akbar. “ pada saat umur berapa bapak memiliki perusahaan minyak ini?” Tanya Ajeng. “ kira-kira pada saat berumur 28 tahun” jawab Pak Akbar yang sedang mengira-ngira. “ wah…” kagum Alya, Ajeng, Putri, dan Rizky. “ umur yang cukup muda, ya!” kata Rizky yang berbisik kepada Putri, “ banget!” respon Putri. “ ya…saya melakukan itu dengan bekerja keras! Dengan belajar bersungguh-sungguh, dan menabung! Sampai saat inipun saya lebih banyak menabung di Bank disbanding menabung di Kantong, karena kejadian yang sata ceritakan itu!” kata Pak Akbar. “ o… jadi, pesan apa yang bapak ingin sampaikan kepada kami agar kami dapat menjadi orang yang sukses seperti bapak?” Tanya Alya. “ kalian cukup usaha dan berdoa, jangan boros, kalian kan punya uang, simpanlah di Bank, bukannya promosi, tapi menyimpan di Bank itu lebih aman dari pada dikantong, bukannya untuk disimpan, tapi malah untuk dijajanin! Hahaha” Pak Akbar yang tertawa geli. Alya, Ajeng, Putri, dan Rizkypun ikut tertawa. “ baik, terimakasih, nih, pak untuk kesempatannya untuk kami wawancarain! Kami sangat beruntung mendapat narasumber seperti bapak! Dan kami jga mohon maaf bila ada kata-kata yang salah” kata Alya yang hendak mengakhiri wawancara. “ iya, yang penting ingat pesan saya tadi! Dan beritahu juga kepada yeman-temanmu! lagipula jika mereka gak percaya sama wawancara kalian, kalian bisa bilang, kalian bisa kekampung dalam didaerah Bandung, cari ibu yang bernama Bu Arum, dia adalah ibu saya, dia pasti ingat sama saya, saya sering mengunjungi ibu saya. Jangan lupa akan hal ini, oke?!” kata Pak Akbar. “ oke! Makasih ya, pak” kata Alya, Ajeng, Putri, dan Rizky kemudian keluar dari perusahaan minyak milik Pak Akbar. Diluar gedung, mereka hendak mencari mitrolet untuk pulang dulu kerumah Alya. Kemudian mereka menemukan mitrolet dan naik ke mitrolet itu. “ keren banget ya pak Akbar itu!” kata Putri. “ iya, kisahnya gokil banget!” kata Rizky. “ untung kita ketemu ama narasumbar kayak beliau!” kata Ajeng. “ siapa dulu pencari alatnya, ALYA NIDA TAHERA MAHARDIKA gitu lho!” kata Alya bercanda. “ hei…pencari alat? Pencari narasumbar lah…GAZEVATI PUTRI ADELIS gitu lho!” kata Putri. “ bukan  RIZKY PUTRI PRATIWI yang merekam suaranya lah…!” kata Rizky. “ alah…salah semua! FADHILAH AJENG DAMARIS yang nanyain narasumber! Ciba kalau aku gak nanya, informasinya gak akan padat, jelas, dan…GOKIL!” kata Ajeng. “ hu…” sorak Alya, Puri, dan Rizky bersamaan.
            Sesampai dirumah Alya. “ friend, kayaknya hari dah mau gelap ni, nginep dihumz ku aja yuk!” kata Alya. “ oke! Bentar, aku nelpon emakku dulu!” kata Ajeng, kemudian Ajeng, Putri, dan Rizky meminta izin oleh orangtua mereka untuk menginap dirumah Alya. “ boleh enggak?” Tanya Alya. “ boleh!” jawab Ajeng dan Rizky secara bersamaan. “ yah…maaf friend, aku…BOLEH! Hahaha” tawa Putri geli saat melihat wajah teman-temannya yang memelas! “ kamu ini!” kata Alya agak sedikit jengkel, tapi BT juga bisa ketipu sama tipuan Putri.
            3 hari kemudian, merupakan hari Minggu, mereka mengarjakan tugas wawancara itu dirumah Ajeng. Mereka mengetik, menghafal, dam mengeprint tugas mereka. “ puas tugasnya udah selesai!” kata Putri. “ yo…i…” kata Rizky.
            Seminggu kemudian, dihari Selasa, anak kelas 8c harus mempresentasikan tugas wawancara mereka. “ apa? Dipresentasikan? Gue belom ngafal nih!” kata Alivh. “ tuh…kan, gue bilang juga apa, kita ngerjain semdiri aja! Gimana dong? Tugas kita udah dikumpulin ke ibu Tiara lagi!” kata Sabrina yang gak berhenti-berhenti ngoceh. Bu Tiarapun memasuki kelas. “ baik, ibu akan memanggil kelompok yang presentasi sesuai dengan waktu pengumpulannya. Dan yang pertama adalah kelompok Alivh” kata Bu Tiara. Kelompok alivh pun maju kedepan. Suasana sempat hening. “ ki…ki…kita mewawancarai seorang pengusaha Batu Bara” kata Gina membuka presentasian mereka. “ kemudian…ke…ke…kemudian…” gugup Tri. “ prak…” bunyi meja yang dipukul keras-keras, “ apa-apaan sih kalian itu? Saya suruh kalian presentasi, bukan mejeng! Kenapa kalian gugup seperti itu?” Tanya Bu Tiara geram. “ kita gak afal, nu!” kata Tri. “ apa!? Kalau kalian yang mengerjakan tugas ini, setidaknya sedikit kalian hafal! Jujur ama ibu, siapa yang mengerjakan tugas ini?” Tanya Bu Tiara. “ em…pembantu Alivh, bu!” kata Gina agak sedikit gugup. “ ini adalah contoh anak yang tak bisa bertanggung jawab, kalian bisa melihat anak-anak ini! Siapa yang ingin memberi pesan pada anak ini?” Tanya Bu Tiara yang kelihatan super geram. “ saya, bu!” kata Alya dengan mengangkat tangan. “ silahkan!” kata Bu Tiara mempersilahkan. “ begini, kita didunia ini tidak hanya sampai masa ini, tapi juga untuk masa seterusnya. Jadi, salah satu usaha yang bisa membantu kita dimasa mendatang itu adalah tabungan, dan tabungan itu bukan hanya tabungan berbentuk uang, tapi masih banyak lagi. Salahsatunya ilmu, jadi…untuk kebahagiaan masa mendatang, tabunglah ilmu sebanyak-banyaknya!” jelas Alya. “ saya ingin menambahkan, bu!” kata Putri. “ iya, silahkan!” kata Bu Tiara. “ jangan pemalas, nanti kamu sendiri yang akan rugi!” kata Putri. “ dengarkan kata-kata temanmu itu, kelompok Alivh, karena kalian sudah memanfaatkan kebaikan ibu dengan hal yang buruk, ibu kurang nilai kamu sebanyak 20 POINT” kata Bu Tiara. Dan nilai presentasi kalian itu 0!” kata Bu Tiara. Merekapun kembali duduk ditempat dudul mereka dengan muka kecut. “ baik, kelompok Alya, em…p4” kata Bu Tiara. Alya, Ajeng, Putri, dan Rizkypun maju unuk presentasi. “ baik, kami dari p4 akan mempresentasikan hasil wawancara kami.” Kata Alya membuka presentasi kelompok p4. “ kami mewawancarai Pak Akbar sebagai pengusaha minyak dunia. “ kata Ajeng. “ dulu beliau adalah anak yang terlahir dari keluarga yang broken home, tapi dengan usaha beliau, beliau dapat menghadapi semua rintangan dengan mudah. Salahsatunya adalah belajar dengan tekun, ibadah, dan menabung, pesan beliau adalah rajjinlah menabung, dan sebaiknya menabung diBank, karena lebih nyaman dan aman, beberapa keuntungan yang dapat kita peroleh dari menabung di Bank adalah jika buku tabungan kita hilang, bila kita masih mempunyai kartu kredit, kita bisa mengambil uang di Bank, tapi tidak dapat menabung. Kita dapat meminjam uang di Bank, dengan masa balik yang ditentukan oleh peminjam. Dilain itu kita dapat menambah uang sedikit-demi sedikit dengan bunga yang diberi dari Bank.” Jelas Putri. “ woy…belum tentu juga kejadian itu betul adanya!” kata Sabrina yang berusaha menjatuhkan/ menjelekkan presentasi mereka. “ oh…tidak! Kalian bisa membuktikan dengan mencari seorang ibu yang bernama Bu Arum dikampung dalam diBandung. Pak Abar masih sering mengunjungi ibunya dikampung tersebut!” respon Rizky. “ aghr…” gerutu Alivh yang kesal tidak bisa menjatuhkan nama baik p4. “ baik, ibu suka dengan presentasi kalian! Ibu beri nilai A plus dan nilai tambahan sebanyak 20 POINT!” kata Bu Tiara. “ yay…” girang Ajeng dengan Rizky. Setelah semua kelompok mempresentasikan hasil mereka. “ baik, ibu rasa presentasi kalian semua sudah baik, ibu minta bagi kalian yang belum menabung diBank, menabunglah, keuntungan akan kalian peroleh seperti yang dikatakan p4 tadi, ingat ya anak-anak!” kata Bu Tiara. Setelah itu belpun berbunyi tanda istirahat. Bu Tiara pergi keluar kelas. P4 sangat senang mendapat hasil yang diperoleh mereka hari ini. Merekapun bersorak bertanda lega. “ yey…” sorak p4 bersama-sama.
SELESAI
AlyaNidaTM
 
Copyright 2009 TM Story. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase